Soegija oleh Wuri Soedjatmiko

Soegija

Teman-teman CLC Ytk.,

Saya mendahului menshare-kan apa yang saya tangkap dari nonton filem Soegija. Mohon dikomentari dan mari kita diskusikan dan direfleksikan makna apa sebetulnya yang dapat kita ambil dari filem ini.

Gedung Cinema XXI di Ciputra World–tempat saya nonton–memang memberikan pengumuman bahwa penonton tidak boleh berbicara selama pertunjukan. Tapi saya kira tidak adanya suara bisik2 justru karena penonton terpaku pada apa yang ditayangkan.

Pertama, filem ini sangat padat. Cuplikan demi cuplikan bergerak menuju ke inti cerita. Latihan koor untuk tahbisan Uskup, doa suster-suster yang diancam mau ditembak, Ling-Ling dan si Englong mewakili kaum Tionghoa, Mariyem yang mewakili perempuan yang sadar gender dan harkat bangsa Indonesia, Suster Belanda yang nyerocos bahasa Jawa mewakili misionaris sejati, si remaja yang hanya bisa membaca ‘Merdeka’ mewakili pejuang yang tidak sempat bersekolah.

Ada Robert yang merasa menjadi mesin perang. Ada Hendrik yang jatuh hati kepada Mariyem, dan Mariyem yang hidup dalam dilema antara jatuh hati kepada Hendrik, tetapi selalu berpikir harga diri sebagai perempuan Jawa yang tidak mau direndahkan.

Tokoh utama Mgr. Soegija, Uskup Pribumi pertama, sangat kuat. Ia bisa berbahasa Belanda, Bahasa Inggris, Bahasa Jawa dan selalu menulis refleksi. Patriotisme tampak dalam mendukung pertahanan melawan Jepang, melawan penjajahan ulang oleh Belanda, dan yang mendahulukan rakyat daripada para imamnya. Ia yang berani menolak ancaman Jepang yang mau memaksakan Gereja untuk dijadikan markas tentara Jepang karena Gereja adalah tempat suci. Ia yang meletakkan dasar “”100% Katolik dan 100% Indonesia.””

Kepadatan cerita ini bagi banyak orang terasa sebagai loncatan-loncatan atau petikan-petikan yang mengganggu. Bagi orang yang detil, ada kritik tentang “apakah dasi zaman itu seperti yang dipakai dalam filem ini? Apakah infus pada jaman itu sudah memakai plastik?” Percakapan bahasa Jawa ada yang tidak diberi sub-title, padahal tidak semua penonton mengerti bahasa Jawa kromo. Seharusnya percakapan pakai bahasa Melayu atau Indonesia?

Sekalipun ada sedikit kritik, terasa sekali keindahan sajian Garin Nugroho ini sebagai penuturan seorang budayawan yang dewasa. Perang merupakan penderitaan bukan hanya bagi yang dijatuhi bom, bagi yang bertahan, tetapi juga bagi kaum muda yang dikirim ke medan perang tanpa tahu tujuan untuk apa mereka harus mengangkat senjata. “Kami adalah mesin, dan mesin harus terus berjalan,” kata Hendrik. Pada akhirnya sang mesin tergugah hatinya ketika menerima surat ibunya yang tidak dapat tidur setiap mendengar bunyi deru pesawat terbang di atas rumahnya. Tragis sekali ia meninggal masih sebagai mesin.

Kekuasaan ditunjukkan Hendrik yang menendang sambil menghina seorang yang ditangkap yang disuruh baca namanya tapi tidak bisa. Keadaan berbalik ketika Jepang masuk dan ganti dia yang menunduk ditendang-disepak.

Nilai seni filem ini juda menonjol. Sebagai sastrawan, seniman dan budayawan, ia menyuguhan humor punokawan melalui Min, ajudan Mgr. Soegija. Seorang batur yang sekaligus berani menasihati majikan, membuat penonton gerrr berulang-ulang. Di sela-sela kekerasan perang ada hal-hal manusiawi yang tidak kenal batas musuh yaitu lagu-lagu Belanda yang diindonesiakan, ada latihan koor dan orang-orang pribumi yang sudah berbudaya yang dapat memainkan biola mengantar lagu berbagai bahasa. Ada sindiran-sindiran lewat tokoh anak Ling Ling yang menanyakan mengapa golongannya selalu menjadi korban jarahan, melalui Mgr. Soegija ketika menasihati pemimpin gerilya yang mau masuk politik, tentang situasi Negara masa kini; tetapi semuanya diucapkan sambil lalu. Juga Ling Ling yang selalu menangis merindukan ibunya, tanpa perlu dideskripsikan maupun dikatakan bahwa ibu cantik ini diambil dan dijadikan “ianfu”.

Nilai-nilai kemanusiaan dan budaya diangkat tanpa menggurui tapi melalui interpretasi penonton. Meskipun Mgr. Soegija diceritakan mulai dari imam yang naik sepeda ontel, ditahbiskan sebagai Uskup pribumi pertama, sebagai pemimpin umat Katolik yang pejuang, sebagai patriot 100% dan Katolik 100%, dan kemudian dimakamkan, dan judulnya adalah nama Uskup Soegijapranata, filem ini sesungguhnya berkisah tentang hal-hal yang sangat manusiawi: tentang cinta kasih, tentang keadilan, tentang pilihan-pilihan, dan tentang matinya kekuasaan.

wuri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *